Jumat, 28 Agustus 2015

Salah menilai dengan media sosial

Tahukah kamu bahwa tidak ada bedanya antara membicarakan orang lain, menghujat orang lain, menjelek-jelekan orang lain di media sosial (dunia maya) dengan kenyataan /dunia nyata ?
Malahan dengan media sosial makin terbuka lebar kita melakukan lebih dari itu. Bahkan peredaranya lebih canggih dari pada itu.
Sudah banyak yang sya baca dari segala tulisan yang ada di media sosial. Dan ada kesamaan dari semua status dan jawaban komentar dari teman-teman kita yang ada di media sosial.
Di media sosial makin terbuka lebar kita untuk mengata-ngatakan keburukan orang lain. Baik dari orang kecil hingga seorang presiden sekalipun.
Dan buruknya lagi media sosial menyuguhkan sebuah pengkaburan kebenaran. Orang tidak pernah tahu dan tidak pernah mengerti siapa yang baik dan siapa yang benar. Orang hanya membela siapa yang bikin status. Jika seorang menuliskan keburukan dari seorang temannya maka semua komentar akan berbau membela si penulis. Bukankah kita sebenarnya tidak tahu siapa yang benar ?.
Ada PRINSIP UTAMA yang perlu kita ketahui, bahwa DI DALAM MANUSIA ITU ADA BENAR DAN ADA SALAH, JIKA ADA PERTIKAIAN DARI DUA ORANG MAKA SEBENARNYA TIDAK ADA YANG KEDUANYA MEMILIKI KEBENARAN MUTLAK, TETAPI YANG BENAR KEDUA-DUANYA MEMILIKI HAL YANG BENAR DAN YANG SALAH. Hanya saja seorang tidak mau mengakui kekurangan dan kesalahan dan kemudian meminta maaf. Sementara yang benar dari dirinya ingin ia unggul-unggulkan untuk memenangkan atas pertikaian itu. Dan ia berusaha menutup-nutupi akan kekurangannya. dan menonjol-nonjolkan atas kesalahan orang lain.
Media sosial bukan tempat untuk curhat, bukan tempat untuk berdoa, bukan tempat untuk bertikai, bukan tempat untuk mengatakan keburukan orang lain. Tapi sebagai media penyambung silaturrahim, penyampai informasi, saling berbagi pengetahuan, promosi. Cari cara yang terbaik untuk gunakan media sosial. Jika engkau bisa membedakan rasa di setiap cara hidup, maka engkau akan mudah membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Jika engkau kuat dalam pemahamanmu dan teguh dalam mengendalikan pikiran dan akhlakmu, maka kamu akan bisa menggerakkan bagian tubuhmu untuk melakukan yang baik dari pada yang buruk. Sesungguhnya baik itu bertingkat-tingkat. Buruk pun bertingkat-tingkat. Tetapi baik akan tetap baik sementara buruk akan tetap buruk. Kamu tidak bisa mengganti keburukan dengan kebaikan dengan alasan yang kamu buat-buat. Sekalipun kamu melakukan keburukan yang terendah yang mana keburukan itu dekat sekali dengan kebaikan hingga orang sulit membedakan. Tetapi keburukan akan berasa buruk, tetapi kebaikan akan terasa baik. Maka kalibrasi kembali timbangannya sehingga beratnya akan bisa terbaca, apa yang bisa menimbangnya adalah hati, pikiran yang bersih, iman dan ilmu.

Minggu, 23 Agustus 2015

Mimpi untuk sukses ?

Memang mudah hanya bermimpi, tapi untuk merealisasikan mimpi bukan hanya bermimpi.
Ingin menguasai dunia tapi hanya dengan duduk. Ingin merasakan kenikmatan dunia tapi tidak ada kerja nyata, tidak mungkin mencapainya. Berpangku tangan dengan orang lain. Berharap dengan orang lain hanyalah kekecewaan yang didapat. Hanya tuntutan yang didapat.
Sukses itu dicapai dengan mengaktifkan semua elemen. Bukan sekedar hanya bermimpi. Mimpi itu adalah menetapkan tujuan saja. Tetapi langkah selanjutnya adalah rencana yang matang. Rencana matang juga tidak cukup tetapi melakukan setiap langkah menuju tujuan adalah realisasi. Tahap demi tahap dilewati. Masalah dan kendala satu per satu dilewati. Semua masalah dievaluasi dan diselesaikan. Selalu meningkatkan kualitas. Terus berpikir. Menyerah pada tahap awal adalah kegagalan. Kendala awal saja tidak bisa menyelesaikan kemudian menyerah adalah kegagalan. Orang gagal pasti akan mengganti mimpi. Orang sukses akan memperbaiki, tak akan menyerah hingga tujuan tercapai. Walau raga bukan menjadi raga, walau harta bukan menjadi harta. Fokus tujuan akhir. Sukses itu bukan tangisan kegagalan. Sukses tidak pernah menyalahkan orang lain. Sukses itu melihat kekurangan diri dan memperbaiki. Kalo perubahan harus bertahap itu benar. Tapi bukan pembenaran untuk lambat melakukan perubahan. Perubahan lebih cepat itu adalah metode. Bukan mengikuti perasaaan yang ingin memperlambat diri dari menuju tujuan. Metode itu selalu berdampingan dengan tekad. Apa tekadmu ? Tekad itu satu keberanian dirimu untuk meninggalkan apa yang kamu senangi sebelum kamu meraih tujuanmu. Kamu tidak akan melihat lagi kesenangan itu kesenangan bagimu. Semua akan tidak berarti selain yang berkaitan dengan tujuanmu. Maka dunia akan mengikuti keinginanmu. Bukan lagi kamu mengikuti keinginan dunia. Apalagi mengikuti keinginan orang lain.
Aktifasi elemen juga bukan hanya di diri saja. Keluarga juga sangat erat. Istri yang mendukung dan mengerti. Anggota keluarga yang lain juga selalu mendampingi dan meringankan. Apa arti sebuah keluarga kalo hanya membawa masalah ?. Apa arti keluarga kalo hanya menghambat ?.Seharusnya keluarga menjadi penyenang hati setelah bergelut seharian dengan pekerjaan. Seharusnya keluarga menjadi motivasi, makin semangat untuk belajar, makin semangat untuk meraih mimpi. Seharusnya keluarga menjadi peringan dari seluruh pekerjaan hidup. Mengurangi yang kecil-kecil hingga yang besar kalo mampu. Bukan pulang masih dibebani dengan wajah cemberut, tidak disambut dengan senyum yang imut, pekerjaan yang masih menumpuk-numpuk, hanya tangisan penggerutu, ditambah keluh kesah pekerjaan, keluh kesah kekurangan, keluh kesah keinginan, dan lain sebagainya.
Semua elemen harus bekerja sama, semua elemen harus diaktifkan fokus menuju tujuan bersama. Stop dreaming again but step by step, struggle....